Author Archives: musliyadi

Mahasiswa PIAUD dan PAI Ikuti Seminar Proposal Skripsi Semester Genap Tahun Ajaran 2018/2019

Pada hari Selasa bertepatan dengan tanggal lima Maret 2019, tiga belas orang mahasiswa program studi pendidikan Islam anak Usia Dini dan program studi pendidikan agama Islam Fakultas agama Islam mengikuti seminar proposal pada jam 14.00 sampai dengan selesai di ruang sidang fakultas agama Islam. Adapun persyaratan mahasiswa untuk mengikuti seminar proposal adalah perlu mempersiapkan persyaratan sebagai berikut:

  1. Membawa lembar persetujuan seminar proposal skripsi dari ketua program studi atau dari penasehat akademik.
  2. Telah mengikuti mata kuliah mata kuliah metodologi penelitian
  3. Membawa foto copi KTM.
  4. Membawa transkip nilai.
  5. Membawa 4 rangkap foto copi proposal skripsi.

Pendaftaran dibuka pada tanggal 25 Februari sampai dengan tanggal 2 Maret 2019 setiap hari dan jam kerja. Pendaftaran proposal skripsi bisa melalui Ibu Dr. Wahyu Khafidah, MA, Ibu Nurhayati, MA dan Bapak Chairullah, S.PdI. Keterlambatan Pendaftaran berkas dan penyerahan draft proposal skripsi maka akan dijadwalkan untuk mengikuti seminar proposal pada semester berikutnya. Seminar proposal skripsi ini akan di uji oleh empat orang penguji yaitu Dr. Hayati, M.Ag, Dr. Wahyu Khafidah MA, Zulfadli, S.SosI. MA dan Nurhayati, MA. Total peserta seminar 13 orang dengan perincian 7 orang perempuan dan 6 orang laki-laki. Lima orang mahasiswa prodi pendidikan Islam anak usia dini dan 8 orang dari program studi pendidikan agama Islam.

Dalam pembukaan seminar proposal Ibu Dr. Wahyu Khafidah, MA selaku ketua prodi pendidikan Islam anak usia dini mengemukakan skripsi merupakan suatu hal yang sudah tidak asing lagi bagi mahasiswa, terutama bagi mahasiswa tingkat sarjana. Guna mendapatkan gelar dan lulus dari suatu perguruan tinggi, menulis sebuah skripsi dan mempertahankan di hadapan dewan penguji merupakan salah satu persyaratan wajib mahasiswa penuhi. Dalam runtutan penulisan skripsi tersebut, terdapat salah satu bagian yang sangat penting ialah seminar proposal skripsi. Dari seminar proposal skripsi ini, akan dikeluarkan serat keputusan siapa yang menjadi pembimbing satu dan pembimbing dua skripsi. Dalam pelaksanaan seminar proposal skripsi, mahasiswa diberikan kesempatan untuk mempresentasikan judul skripsinya berdurasi 8-10 menit. Kemudian, seminar proposal tersebut di lanjutkan dengan adanya tanggapan dari dewan penguji, baik berupa kritikan maupun saran terhadap proposal skripsi mahasiswa.

Nurhayati, MA selaku ketua program studi pendidikan agama Islam menambahkan diakhir penutupan seminar bahwa terdapat beberapa alasan mengapa seminar proposal skripsi itu sangat penting bagi mahasiswa:

  1. Untuk mengetahui garis besar skripsi yang akan di gunakan oleh mahasiswa dalam skripsinya nanti.
  2. Sebagai saranan masukan bagi mahasiswa terhadap penulisan skripsi. Hal ini menjadi suatu saran bagi mahasiswa terhadap skripsi yang di tulisnya
  3. Untuk mengetahui kesiapan mental mahasiswa dalam menulis skripsi.
  4. Sebagai upaya dalam meningkatkan lulusan mahasiswa yang berkualitas mumpuni, baik dari segi akademis maupun non-akademis.

Diakhir seminar proposal skripsi Dr. Hayati, MA mengajak mahasiswa ketika sudah mendapatkan SK pembimbing langsung bersegera untuk melakukan bimbingan dan jangan sampai lalai sehingga melupakan bimbingan skripsi. Yang kedua beliau menyebutkan bahwa semangat itu nomor satu dalam mengerjakan tugas akhir skripsi. Jika ada coretan dari pembimbing itu adalah hal bagus karena kita sebagai mahasiswa mengetahui dimana salah dan dimana peru memperbaikinya.

Mahasiswa Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) FAI USM Belajar Sejarah Konflik Dan Perdamaian Aceh Di Ruang Memorial Perdamaian Aceh

Pada hari Jum’at 02 November 2018 pukul 10.00 Wib, mahasiswa pendidikan Islam anak usia Dini (PIAUD) Fakultas Agama Islam Universitas Serambi Mekkah Banda Aceh diterima oleh badan Kesbangpol Aceh di ruang memorial perdamaian. Adapun tujuan kunjungan, dalam kaitannya pembelajaran sejarah konflik dan perdamaian yang pernah terjadi di Aceh.Dalam kunjungan tersebut, turut serta di dampingi oleh dosen Universitas Serambi Mekkah Aceh, Ibu Dr. Wahyu Khafidah, MA.

Dalam kunjungan tersebut diterima oleh pak kurator Muhammad Mardian yang langsung menyambut di pintu gerbang kantor Kesbangpol Aceh. Dalam kunjugan tersebut ada beberapa agenda yang dilakukan yang pertama mahasiswi mengisi absensi daftar hadir, kemudian melihat bukti senjata yang sudah dipotong-potong pasca perjanjian damai. Senjata ini dimasukkan kedalam sebuah kotak kaca di tengah ruangan. Kotak kaca ini berisikan potongan senjata bekas konflik dari jenis M-16 dan AK 56. Ada juga dua buah granat manggis yang sudah dikosongkan isinya. Potongan senjata ini berstatus pinjam pakai dari komando daerah militer iskandar muda.

Dalam penjelasannya pak kurator menyebutkan asal mula terjadinya konflik. Momentum perjanjian damai MOU Helsinki ini terjadi setelah Aceh luluh lantak diterjang bencana dahsyat tsunami pada 26 Desember 2004. Akibat bencana itu, ratusan ribu orang tewas. Perjanjian damai yang terjadi pada masa kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini dicetuskan oleh wakil presiden saat itu, Jusuf Kalla. Perjanjian ini dimediatori mantan Presiden Finlandia, Martti Ahtisaari melalui Crisist Management Initiative (CMI) yang dipimpinnya. Pihak GAM diwakili oleh Malik Mahmud Al Haytar, sementara pemerintah RI diwakili oleh Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaludin.

Kurator menyebutkan ruang memorial perdamaian ini dibuat untuk memberikan informasi terkait sejarah konflik dan perdamaian Aceh dalam sebuah ruang multiguna dan multilayanan. Ukurannya hanya sekitar 8×10 meter. Awalnya merupakan ruang kerja bidang penanganan konflik yang disulap menjadi sangat apik. Di ruangan inilah ditampilkan berbagai alat peraga audio visual berupa foto, video, film, buku-buku, hasil penelitian dan artefak di masa konflik.

Di bilah kanan menempel gambar besar yang dicetak di bahan vinyl MMT berisikan informasi mengenai jalan panjang perdamaian di Aceh. Dengan melihat gambar ini secara garis besar pengunjung akan mengetahui berbagai peristiwa dan tragedi yang terjadi di Aceh. Sejak masa Portugis, Belanda, masa konflik gerakan Aceh merdeka (GAM), pemberlakuan darurat operasi militer, darurat militer, hingga penandatanganan Mou Helsinki pada 15 Februari 2005 silam di Finlandia. Tanggal yang setelahnya ditetapkan sebagai hari perdamaian Aceh.

Ruangan ini bisa digunakan untuk publik tanpa dipungut biaya apa pun. Entah itu untuk diskusi, workshop, atau training, selama masih ada kaitannya dengan isu-isu perdamaian. Belasan foto ditata dengan apik merapat ke dinding.Di sisi timur meja ada sebuah partisi dari kayu berukir yang memajang dua foto sekaligus menjadi penyekat ruangan. Ada sebuah kalimat yang berhasil memancing rasa penasaran dan diskusi panjang dari para blogger. “Senjata bukan tanda damai” begitu bunyi tulisan tersebut.Di belakang partisi ini ada dua bilik kecil yang memuat sejumlah foto. Di antaranya foto yang menerakan isi perjanjian MoU Helsinki dan Ikrar Lamteh.

“Damai ini lahir dari proses perundingan yang panjang. Ada yang mengatakan damai ini lahir karena tsunami, padahal peristiwa tsunami itu mengetuk hati orang-orang yang bertikai ketika itu sehingga mempermudah proses perundingan sebab perundingan untuk perdamaian Aceh itu sendiri sudah dilakukan dari sebelum tsunami,” kata Muhammad Mardian.

Cikal Bakal Lahirnya Ruang Memorial Perdamaian

Ruang Memorial Perdamaian ini, kata dia, merupakan wujud dari salah satu tugas pokok lembaga kesbangpol tersebut dalam menjaga keberlangsungan perdamaian Aceh. Gagasan dari kepala Kesbangpol Aceh sebelumnya. Ruangan ini dibuat pertama kali pada tahun 2013 dan rampung pada 2015 lalu. Dan tahun 2015 inilah sudah dibuka untuk umum hingga saat ini. Anggaran diperkirakan dihabiskan untuk membuat ruangan tersebut sekitar Rp.200 juta. Sementara untuk konten seperti koleksi foto, banyak didukung oleh pihak eksternal seperi kalangan LSM, di antaranya kata dia, lembaga achehnese civil society task force (ACSTF) dan juga ada foto karya murizal hamzah.

Ruang ini diharapkan bisa menjadi pusat penelitian penyelesaian konflik dan perdamaian di Aceh. Kedapan semoga ruang memorial ini mampu menghasilkan sebuah musium perdamaian. Kemudian ruangan ini mampu mendapatkan koleksi yang ada sekarang mewakili seperti apa wajah Aceh masa perang hingga damai.Sesuai namanya, keberadaan ruang ini diharapkan menjadi perekat ingatan bahwa perdamaian itu sesuatu yang mahal. Menghabiskan satu setegah jam waktu di dalam ruangan itu rasanya terlalu singkat. Membuat kita sadar hanya ketakutan dan kekhawatiranlah yang membuat segala sesuatu menjadi lama dan tak menyenangkan. Dua hal yang tak perlu diwariskan kepada generasi selanjutnya. Konflik membuat kita hilang pendidikan, banyak pengungsi dan banyak korban jiwa baik dari pihak TNI Gam dan masyarakat sipil yang tidak bersalah.

Diakhir pertemuan diadakan diskusi, mahasiswa menyampaikan pertanyaan-pertanyaan yang menganjal dalam fikiran mereka. Salah satu pertanyaan mereka adalah mengenai penggabungan Aceh dengan Sumatera Utara menjadi satu provinsi. Mengenai Wali Nanggroe dan lain-lainnya. Selanjutnya dosen pembimbing mengucapkan terima kasih kepada kurator pak Mardian yang telah memberikan edukasi mengenai konflik Aceh hingga terjadinya perdamaian Aceh setelah beberpa kali terjadi perundingan. Harapan terakhir adalah konflik jangan sampai terjadi kembali, marilah kita rawat perdamaian ini.

Berikut adalah beberapa foto kegiatan tersebut

FAI Laksanakan Yudisium

Fakultas Agama Islam (FAI) melaksanakan kegiatan yudisium, Pada kesempatan ini, FAI USM telah melahirkan sebanyak 21 Alumni, dari Prodi PAI sebanyak 20 orang dan Prodi KPI sebanyak 1 orang atau sebanyak 20 Mahasiswi wanita dan 1 Mahasiswa laki-laki
Acara dimulai jam 09.00 sampai dengan selesai, berlangsung dengan sukses dan memuaskan. Adapun susunan acara nya adalah pembukaan ayat suci al qur’an dan shalawat, Melantunkan lagu Indonesia Raya, Orasi Ilmiah, Kesan dan Pesan perwakilan Yudisia, Laporan Akademik oleh PD1 FAI, Sambutan Dekan Fai, Sambutan PR1 USM ( Ir.H.T. Makmur, M.Si), Penyerahan sertifkat, doa dan penutup.
Dalam Kata sambutannya PR1 USM Ir.H.T. Makmur, M.Si menyampaikan adalah baik menjadi sarjana agama islam yang hebat,akan tetapi yang lebih hebat adalah menjadi sarjana agama islam yang baik. Dan beliau juga mengucapkan selamat dan sukses terhadap para Yudisia dan berpesan untuk selalu menjaga nama baik almamater kita.

DEKAN FAI USM MEMBERIKAN HADIAH BUKU HASIL KARYA NYA KEPADA SATU MAHASISWI LULUSAN TERBAIK

Pada Hari Kamis 16 Agustus 2018, Dekan FAI USM yaitu Dr. Andri Nirwana.AN, M.Ag memberikan buku hasil karyanya yang berjudul “Fiqh Siyasah maliyah” (keuangan Publik Islam) kepada saudari Sinta Rosdani dengan IPK 3,81
Sinta Rosdani kelahiran tahun 1995 di Lhok Makmur merupakan mahasiswi terbaik yang dilahirkan dari fakultas agama islam universitas serambi mekkah
Buku yang dihadiahkan oleh Pak dekan, berisi tentang teknik mendapatkan pendapatan negara dan teknik mempergunakan pendapatan tersebut untuk kemakmuran Rakyat. Harapan pak dekan mudah mudahan dengan membaca buku ini dapat menambah wawasan dari lulusan terbaik untuk bersikap baik terhadap negara dan selalu cinta tanah air.
Dalam Kata sambutannya, Dekan menjelaskan Motto FAI USM yaitu Unggul, Inovatif dan Religius. Unggul mempunyai arti kelebihan, Harapannya Alumni FAI setelah memperoleh sarjana menjadi lebih strata nya dalam masyarakat dan harus menjaga sikap dan akhlak keseharianya. Inovatif ialah memperkenalkan sesuatu yang baru dalam masyarakat. Dalam hal ini harus benar benar memahami kondisi masyarakat tersebut, sebuah pepatah mengakatan “Bicaralah dengan suatu kaum menurut Kadar dan tingkatan Otak mereka atau pemahaman Mereka” agar kita mudah diterima. Religius adalah sikap Taqwa dalam keseharian harus menjadi pakaian, Jadilah Rabbani di muka bumi Allah SWT.

DR. WAHYU KHAFIDHAH, MA. MENYAMPAIKAN ORASI ILMIAH NYA PADA YUDISIUM ANGKATAN KEDUA FAKULTAS AGAMA ISLAM UNIVERSITAS SERAMBI MEKKAH

Pada kesempatan Yudisium kali ini, Beliau menyampaikan orasi yang berjudul “Lulusan FAI USM harus mampu menjawab tantangan kehidupan generasi Milenial”
Dalam orasinya beliau menyampaikan bahwa Generasi Milenial adalah generasi yang lahir pada zaman teknologi, lahirnya TV berwarna dan awal lahirnya Hand Phone. Pada tahun 2017 jumlah generasi milenal yang berumur antara 20-37 tahun sebanyak 81 Juta.
Tantangan yang dihadapi generasi milenial adalah asyik dengan dunia maya (medsos) dan Ujaran Kebencian (Hate Speach) melalui media sosial. Untuk menanggulangi ini diperlukan adanya pendidikan etika Media, mengatur akun yang sehat saja, melaporkan ke pihak yang berwajib.
Masalah yang terjadi di masyarakat yaitu besarnya perhatian kepada pendidikan umum untuk memperoleh keberhasilan capaian Materi, ketimbang perhatian agama, Orang tua lebih prihatin kalau melihat nilai Mata pelajaran eksakta anaknya Rendah, ketimbang melihat sikap dan Akhlak kesehariannya Bobrok, lalu orang tua mengantarkan lagi anaknya ke tempat bimbingan belajar, guna penguasaan ilmu eksakta nya meningkat. Hal ini dianggap wajar, akan tetapi ada suatu hal yang sangat penting yang luput dari perhatian yaitu bagaimana meningkatkan Akhlak dan perilaku nya dalam kehidupan Masyarakat. Masyarakat Amerika sangat mengkhawatirkan anak nya tidak mau antri dari pada nilai matematika nya anjlok. Ini merupakan suatu perbandingan.
Peluang bagi alumni FAI USM sangatlah banyak di dalam masyarakat, semakin majunya perkembangan teknologi, maka dibutuhkan pula sarjana agama untuk mampu mengimbanginya, baik lewat Pendidikannya, syariah nya maupun dakwahnya lewat media di dalam masyarakat
Dalam melayani kebutuhan masyarakat akan ilmu agama islam di zaman milenia ini. Maka Alumni FAI USM harus memiliki penguasaaan ilmu agama islam, menghayati dan mengamalkan ajaran agama islam, berwawasan Global, menguasai bahasa asing (inggris) dan mengikuti perkembangan iptek
Adapun Prospek pekerjaan yang bisa dicapai oleh alumni FAI USM adalah Wira Usaha, Kepala Madrasah, Peneliti, Tenaga Pendidik, Manager Media dll.

Berikut adalah foto-foto kegiatan yudisium tersebut

Fakultas Agama Islam Menjalin Kerja Sama Dengan Askopis

Askopis adalah asosiasi komunikasi dan penyiaran Islam se Indonesia, dengan bahasa lain adalah sebuah wadah persatuan Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam di bawah kemenag yang ada di Indonesia. Yang tugasnya membimbing akreditasi Prodi KPI menjadi lebih baik.
Hari ini tepatnya hari Rabu Tanggal 28 Maret 2018 di Aula sidang PascaSarjana UIN Ar Raniry telah bersepakat untuk menandatangani MOU antara Fakultas Agama Islam Serambi Mekkah dengan Askopis. Dekan Fakultas Agama Islam DR. Andri Nirwana.AN, M. Ag dan Ketua Askopis : Muhammad Zamroni, S. Sos, M.Si telah bersepakat untuk membawa Prodi KPI universitas Serambi Mekkah menjadi Prodi Terunggul di tahun 2022.


Ketua Askopis Muhammad Zamroni menyampaikan saat ini jumlah anggota askopis adalah 100 prodi dari 250 Prodi KPI yang ada di Indonesia dan beliau berharap ke depan selebihnya (kurang lebih) 150 prodi lagi seharusnya bergabung dengan Askopis, guna memperkuat Epistimologi Keilmuan Komunikasi penyiaran Islam tersebut. Beliau menambahkan ada beberapa prodi KPI yang ada di Aceh yaitu di Universitas Serambi Mekkah, di UIN Ar Raniry, STAIN Gajah Putih, IAIN malikus saleh, IAI Aziziyah samalanga, IAI al Muslim, STAIN Dirundeng, IAIN Cot Kala, selayaknya juga bergabung dalam wadah ini.
Acara inti hari ini difasilitasi oleh Pascasarjana UIN Ar Raniry untuk meminta Bapak ketua Askopis mengisi materi Workshop kurikulum KKNI untuk prodi S2 Komunikasi, Beliau menyampaikan “Perumusan Kurikulum diawali dengan analisis Swot (atau menganalisa apa yang menjadi kekuatan dan kelemahan Prodi kita), Lalu mengundang User untuk mendengar Informasi tentang Tenaga Kerja yang dibutuhkan oleh User, Lalu Prodi menyusun Profil Lulusan prodi KPI, setelah jelas Profil Lulusan, Dilanjutkan dengan membuat Workshop Mata kuliah yang akan memenuhi tuntutan Profil Lulusan tersebut, lalu dilakukan Workshop Pengaturan Silabus Tiap Mata Kuliah. Setelah ini dilakukan, baru pihak Dosen yang menyusun RPS (Rencana Pembelajaran Semester) sesuai dengan Silabush. Beliau berpesan, jangan Dosen langsung disuruh buat silabus, karena akan tidak sesuai dengan Profil lulusan”
Acara ini dihadiri oleh seluruh Prodi KPI yang ada di Aceh, Media koran, Komisioner KPI, dan para dosen Fakultas Dakwah UIN Ar Raniry, kurang lebih berjumlah dua puluh Orang. Bapak ketua Askopis berpesan kepada ketua Prodi S2 KPI DR Abd. Rani Usman, M.Si, untuk membuat DPD Askopis Aceh dan beliau bersedia melantik di Aceh atau pada acara Konfrensi Nasional di Salatiga Jawa tengah.

Selamat Datang

Fakultas Agama Islam (FAI) adalah sebuah nama fakultas baru yang berasal dari mergernya beberapa fakultas menjadi FAI. FAI resmi menjadi nama fakultas di lingkungan Universitas Serambi Mekkah. Untuk informasi terkait dengan FAI harap dapat menghubungi 0651 26160 setiap jam kerja.