Mahasiswa Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) FAI USM Belajar Sejarah Konflik Dan Perdamaian Aceh Di Ruang Memorial Perdamaian Aceh

Pada hari Jum’at 02 November 2018 pukul 10.00 Wib, mahasiswa pendidikan Islam anak usia Dini (PIAUD) Fakultas Agama Islam Universitas Serambi Mekkah Banda Aceh diterima oleh badan Kesbangpol Aceh di ruang memorial perdamaian. Adapun tujuan kunjungan, dalam kaitannya pembelajaran sejarah konflik dan perdamaian yang pernah terjadi di Aceh.Dalam kunjungan tersebut, turut serta di dampingi oleh dosen Universitas Serambi Mekkah Aceh, Ibu Dr. Wahyu Khafidah, MA.

Dalam kunjungan tersebut diterima oleh pak kurator Muhammad Mardian yang langsung menyambut di pintu gerbang kantor Kesbangpol Aceh. Dalam kunjugan tersebut ada beberapa agenda yang dilakukan yang pertama mahasiswi mengisi absensi daftar hadir, kemudian melihat bukti senjata yang sudah dipotong-potong pasca perjanjian damai. Senjata ini dimasukkan kedalam sebuah kotak kaca di tengah ruangan. Kotak kaca ini berisikan potongan senjata bekas konflik dari jenis M-16 dan AK 56. Ada juga dua buah granat manggis yang sudah dikosongkan isinya. Potongan senjata ini berstatus pinjam pakai dari komando daerah militer iskandar muda.

Dalam penjelasannya pak kurator menyebutkan asal mula terjadinya konflik. Momentum perjanjian damai MOU Helsinki ini terjadi setelah Aceh luluh lantak diterjang bencana dahsyat tsunami pada 26 Desember 2004. Akibat bencana itu, ratusan ribu orang tewas. Perjanjian damai yang terjadi pada masa kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini dicetuskan oleh wakil presiden saat itu, Jusuf Kalla. Perjanjian ini dimediatori mantan Presiden Finlandia, Martti Ahtisaari melalui Crisist Management Initiative (CMI) yang dipimpinnya. Pihak GAM diwakili oleh Malik Mahmud Al Haytar, sementara pemerintah RI diwakili oleh Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaludin.

Kurator menyebutkan ruang memorial perdamaian ini dibuat untuk memberikan informasi terkait sejarah konflik dan perdamaian Aceh dalam sebuah ruang multiguna dan multilayanan. Ukurannya hanya sekitar 8×10 meter. Awalnya merupakan ruang kerja bidang penanganan konflik yang disulap menjadi sangat apik. Di ruangan inilah ditampilkan berbagai alat peraga audio visual berupa foto, video, film, buku-buku, hasil penelitian dan artefak di masa konflik.

Di bilah kanan menempel gambar besar yang dicetak di bahan vinyl MMT berisikan informasi mengenai jalan panjang perdamaian di Aceh. Dengan melihat gambar ini secara garis besar pengunjung akan mengetahui berbagai peristiwa dan tragedi yang terjadi di Aceh. Sejak masa Portugis, Belanda, masa konflik gerakan Aceh merdeka (GAM), pemberlakuan darurat operasi militer, darurat militer, hingga penandatanganan Mou Helsinki pada 15 Februari 2005 silam di Finlandia. Tanggal yang setelahnya ditetapkan sebagai hari perdamaian Aceh.

Ruangan ini bisa digunakan untuk publik tanpa dipungut biaya apa pun. Entah itu untuk diskusi, workshop, atau training, selama masih ada kaitannya dengan isu-isu perdamaian. Belasan foto ditata dengan apik merapat ke dinding.Di sisi timur meja ada sebuah partisi dari kayu berukir yang memajang dua foto sekaligus menjadi penyekat ruangan. Ada sebuah kalimat yang berhasil memancing rasa penasaran dan diskusi panjang dari para blogger. “Senjata bukan tanda damai” begitu bunyi tulisan tersebut.Di belakang partisi ini ada dua bilik kecil yang memuat sejumlah foto. Di antaranya foto yang menerakan isi perjanjian MoU Helsinki dan Ikrar Lamteh.

“Damai ini lahir dari proses perundingan yang panjang. Ada yang mengatakan damai ini lahir karena tsunami, padahal peristiwa tsunami itu mengetuk hati orang-orang yang bertikai ketika itu sehingga mempermudah proses perundingan sebab perundingan untuk perdamaian Aceh itu sendiri sudah dilakukan dari sebelum tsunami,” kata Muhammad Mardian.

Cikal Bakal Lahirnya Ruang Memorial Perdamaian

Ruang Memorial Perdamaian ini, kata dia, merupakan wujud dari salah satu tugas pokok lembaga kesbangpol tersebut dalam menjaga keberlangsungan perdamaian Aceh. Gagasan dari kepala Kesbangpol Aceh sebelumnya. Ruangan ini dibuat pertama kali pada tahun 2013 dan rampung pada 2015 lalu. Dan tahun 2015 inilah sudah dibuka untuk umum hingga saat ini. Anggaran diperkirakan dihabiskan untuk membuat ruangan tersebut sekitar Rp.200 juta. Sementara untuk konten seperti koleksi foto, banyak didukung oleh pihak eksternal seperi kalangan LSM, di antaranya kata dia, lembaga achehnese civil society task force (ACSTF) dan juga ada foto karya murizal hamzah.

Ruang ini diharapkan bisa menjadi pusat penelitian penyelesaian konflik dan perdamaian di Aceh. Kedapan semoga ruang memorial ini mampu menghasilkan sebuah musium perdamaian. Kemudian ruangan ini mampu mendapatkan koleksi yang ada sekarang mewakili seperti apa wajah Aceh masa perang hingga damai.Sesuai namanya, keberadaan ruang ini diharapkan menjadi perekat ingatan bahwa perdamaian itu sesuatu yang mahal. Menghabiskan satu setegah jam waktu di dalam ruangan itu rasanya terlalu singkat. Membuat kita sadar hanya ketakutan dan kekhawatiranlah yang membuat segala sesuatu menjadi lama dan tak menyenangkan. Dua hal yang tak perlu diwariskan kepada generasi selanjutnya. Konflik membuat kita hilang pendidikan, banyak pengungsi dan banyak korban jiwa baik dari pihak TNI Gam dan masyarakat sipil yang tidak bersalah.

Diakhir pertemuan diadakan diskusi, mahasiswa menyampaikan pertanyaan-pertanyaan yang menganjal dalam fikiran mereka. Salah satu pertanyaan mereka adalah mengenai penggabungan Aceh dengan Sumatera Utara menjadi satu provinsi. Mengenai Wali Nanggroe dan lain-lainnya. Selanjutnya dosen pembimbing mengucapkan terima kasih kepada kurator pak Mardian yang telah memberikan edukasi mengenai konflik Aceh hingga terjadinya perdamaian Aceh setelah beberpa kali terjadi perundingan. Harapan terakhir adalah konflik jangan sampai terjadi kembali, marilah kita rawat perdamaian ini.

Berikut adalah beberapa foto kegiatan tersebut

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *